MENCARI
KOTA RAMAH YANG TERSISA
Di kota
ini ruang tertawa adalah sesuatu yang hilang
dan
tidak seorang pun berharap menemukannya.
Mereka
akan lebih memilih hobi masing-masing.
Penipuan
jadi menu favorit di warung kopi.
Kau
lebih butuh kata iya daripada tidak.
Iya
adalah cara yang baik untuk menghentikan
kecaman
dan pertengkaran.
Membutuhkan
colokan listrik lebih banyak
untuk
mengisi ulang kebahagiaan yang mencemaskan
agar
semua tertawa dan menunda mati sia-sia.
Kau
tidak tahu tertawa dan mati sia-sia
merupakan
jenis pekerjaan yang berbeda.
Jalan-jalan
dan parkiran kian sepi,
detik-detik
di tanganmu juga semakin lelah,
untung
saja jantungmu tidak.
Semakin
banyak orang yang hidup dalam kehilangan.
Keinginan
adalah kata yang dilarang masuk,
sesuatu
yang sengaja dibersihkan petugas kebersihan
di
dinding-dinding telepon yang kau genggam.
Melupakan
hobi adalah cara hidup yang masih nyata
hingga
saat ini dan aku selalu tidak sependapat.
Selebihnya
tanpa mereka tahu
sepasang
lengan diam-diam ingin
mengubah
kota ini jadi pasar malam.
Kita
bisa ke mana saja, duduk di mana saja, memainkan apa saja,
bahkan
perasaan yang melompat ke kubangan api
atau ke genangan
kolam untuk tenggelam
dan menemukan
kota ramah yang tersisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar