MEMBAGI
LANGIT
Ia lebih
terbuka daripada minimarket dua puluh empat jam
yang
sering kau kunjungi ketika lapar
mengajakmu
begadang di malam hari.
Ia lebih
kuat dari jembatan yang menghubungkan
harapan
dan kemalangan.
Ia lebih
setia dan selalu memilih tersenyum.
Ia tidak
ingin dirimu terlihat kalah saat pulang
dengan mimpi
yang kosong
atau
demi menyembunyikan tangis entah pekerjaan siapa.
Langit
yang tegap berdiri di atas kepala
selalu
mencintai pintu dan daun-daun jendelamu.
Tanpa
alasan dan tuduhan ia menyembunyikan tersangka
sebagaimana
hati yang jatuh diam-diam.
Langit
depan rumahmu kumuh dan bukan hanya dirimu yang sedih.
Ia juga
berharap dapat mencuci matamu
dengan
menelan dirinya sendiri.
Perlahan
ia mampu menceritakan kesedihanmu
pada
langit di depan rumahku.
Aku
mendengar seluruhnya dengan jelas.
Mereka
sepakat redup.
Warna
lampu memilih hitam di kasurmu
di kasurku
juga merasakan kehilangan yang berbahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar