BATAL MELUNASI
RENCANA
Di suatu
hari aku pernah menabung hutang padamu.
Hanya
satu hari ia menjadi lebat dan menghutan dengan cepat.
Bunganya
rimbun di antara tawa.
Harapan
dengan cepat memutari angan-angan
agar
besok kita bertemu,
namun
akhirnya aku terlambat bertamu.
Ini
sudah larut, entah apa yang sudah diceritakan malam tentang aku.
Celakanya
kau percaya. Prasangkamu meruntuhkan seluruh rencana.
Aku
lelah menebak semua kemungkinan
dan
memindahkan cuaca dingin dan hujan.
Cuaca
yang kau sajikan baru dapat kumengerti
setelah
bayi matahari dicicipi oleh para nelayan di dermaga.
Dari
bagan kudengar ibu-ibu terpaksa mengeluhkan
harga
ikan yang sudah tinggi.
Mereka
tak lagi dapat menyetarakan semua isi kantong
dan
perut anak-anak mereka yang keroncong.
Mereka
dan aku kembali terpaksa
menuliskan
daftar keinginan di peti-peti mati
karena
kami sama-sama batal melunasi rencana.
Mungkinkah
batal atau bubar sama saja
lebih
hobi tangisan atau penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar