MELARANG KAU CUTI
Pekerjaan telah beristirahat dengan tenang
sebelum bulan membagi dirinya.
Waktu liburmu kini memanjang dari kalender yang
selalu menuntutmu berhenti tertawa.
Kasur, bantal dan selimut saat ini
satu-satunya gaya gravitasi yang tersisa.
Namun di langit yang sama aku tak pernah
berharap demikian.
Aku senang ketika berkas tergeletak manja di
meja
karena matamu tenggelam lebih tajam dan dalam
buku tugasmu sesekali basah karena energimu
kehabisan tinta.
Dirimu senang menggambar hal-hal yang selalu
tidak masuk akal.
Suatu sore kau menggambar langit dengan hujan
juga malam yang buram
karena ia selalu melarangmu cuti dan ingatanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar