KATA
YANG PERNAH MEKAR DI BIBIRMU
Kata-katamu
terpampang nyata di layar komunikasi.
Pada pesan-pesan
yang tak pernah berhenti bicara
walau aku
telah kau lihat tidak ingin mendengar
atau
tuli tiba-tiba.
Bahkan
kau percaya malam yang legam selalu mendengarmu
ketika
tidak ada apa pun yang tersisa saat itu.
Kasur yang
membelai lelah lebih memilih mendengar hujan
Dengan penuh
ketidakpastian
kapan
berhenti memeluk dirinya.
Kau
kembali bersuara di atas meja rapat
dan
lagi-lagi aku tidak ingin mendengar atau tiba-tiba tuli.
Adu
pendapat yang bising adalah pilihan terbaik
yang
bisa saja membuat keinginanku untuk tuli jadi kenyataan.
Dan kau
lagi-lagi percaya malam
yang
legam selalu mendengarmu
ketika
tidak ada satu orang pun yang tersisa di saat ini.
Aku
melongo dengan tanda tanya di sampingku
tidak
berhenti menabrakkan diri.
Apakah
seperti ini kau membuatku tak berdaya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar