Selasa, 13 November 2018

HARI LAHIR KEMATIAN DIRIMU


HARI LAHIR KEMATIAN DIRIMU

Di kota ini semua terbunuh mengikuti kematianmu
Luka dan duka tumbuh subur di sepanjang bumi merentangkan lengan
Langit serta jalanan yang pernah ada dirimu menjadi kubur
Sungguh, tidak ada yang sempat menyelamatkan diri dari takdir.

Aku hanya ingin mengunjungi pantai
menatap keinginan yang luas dan melupakan kemampuan yang sempit
Disana aku dapat mengingat orang-orang hidup yang mati
dan orang-orang mati yang hidup.

Sebelum ini janji pernah melayang
Semua hari menjatuhkan diri dan berwarna merah
Karena sebab dan akibat sudah menjadi nisan
dalam daftar keinginan dan keengganan
Aku harus libur memikirkan dirimu membiarkan gelas-gelas kosong dan buku-buku yang kita tandai membaca dirinya sendiri.

Ketika hendak pulang,
sebelum aku membalikkan tubuh ke kanan,
rekaan-rekaan tumbuh sekali lagi
mengingat orang-orang yang pergi,

dirimu.

AKU SEMAKIN BANYAK MENGINGATMU


AKU SEMAKIN BANYAK MENGINGATMU

Ketika aku mulai lupa cara tertawa dan kau terus tersedak
oleh lelucon konyol yang mampir di telingamu.
Sebagian kepalamu hanya diisi perintah untuk lari.
Entah karena aku begitu menakutkan
atau kau begitu menginginkan.

Seperti biasa, senja sore yang ku tatap dari balik jendela.
Hanya berisi lambaian langit yang ditumpahi kebahagiaan.
Langit selalu menuangkan udara yang lembab.
Memompa kehidupan kota dan kita.
Sementara di tubuhmu, tetapi terus membelukar menggantung diri dengan harapan utuh kembali.

Kau semakin lekat dalam lengan-lenganku.
Mereka dipaksakan terpasang walau tanpa memeluk apa-apa.
Ini semua hanya kebisingan di kepala
yang tak henti menampung penyakit.
Dalam diriku penuh kebakaran, dan malah kau menjadi api.
Aku enggan tersenyum setelah semua usai
dengan cara semestinya menurutmu.


MENCARI KOTA RAMAH YANG TERSISA


MENCARI KOTA RAMAH YANG TERSISA

Di kota ini ruang tertawa adalah sesuatu yang hilang
dan tidak seorang pun berharap menemukannya.
Mereka akan lebih memilih hobi masing-masing.
Penipuan jadi menu favorit di warung kopi.

Kau lebih butuh kata iya daripada tidak.
Iya adalah cara yang baik untuk menghentikan
kecaman dan pertengkaran.
Membutuhkan colokan listrik lebih banyak
untuk mengisi ulang kebahagiaan yang mencemaskan
agar semua tertawa dan menunda mati sia-sia.
Kau tidak tahu tertawa dan mati sia-sia
merupakan jenis pekerjaan yang berbeda.

Jalan-jalan dan parkiran kian sepi,
detik-detik di tanganmu juga semakin lelah,
untung saja jantungmu tidak.
Semakin banyak orang yang hidup dalam kehilangan.
Keinginan adalah kata yang dilarang masuk,
sesuatu yang sengaja dibersihkan petugas kebersihan
di dinding-dinding telepon yang kau genggam.
Melupakan hobi adalah cara hidup yang masih nyata
hingga saat ini dan aku selalu tidak sependapat.

Selebihnya tanpa mereka tahu
sepasang lengan diam-diam ingin
mengubah kota ini jadi pasar malam.
Kita bisa ke mana saja, duduk di mana saja, memainkan apa saja,
bahkan perasaan yang melompat ke kubangan api
atau ke genangan kolam untuk tenggelam
dan menemukan kota ramah yang tersisa.

KATA YANG PERNAH MEKAR DI BIBIRMU


KATA YANG PERNAH MEKAR DI BIBIRMU

Kata-katamu terpampang nyata di layar komunikasi.
Pada pesan-pesan yang tak pernah berhenti bicara
walau aku telah kau lihat tidak ingin mendengar
atau tuli tiba-tiba.
Bahkan kau percaya malam yang legam selalu mendengarmu
ketika tidak ada apa pun yang tersisa saat itu.
Kasur yang membelai lelah lebih memilih mendengar hujan
Dengan penuh ketidakpastian
kapan berhenti memeluk dirinya.

Kau kembali bersuara di atas meja rapat
dan lagi-lagi aku tidak ingin mendengar atau tiba-tiba tuli.
Adu pendapat yang bising adalah pilihan terbaik
yang bisa saja membuat keinginanku untuk tuli jadi kenyataan.
Dan kau lagi-lagi percaya malam
yang legam selalu mendengarmu
ketika tidak ada satu orang pun yang tersisa di saat ini.

Aku melongo dengan tanda tanya di sampingku
tidak berhenti menabrakkan diri.
Apakah seperti ini kau membuatku tak berdaya?

HARI YANG DIPENUHI KABAR KOBAR API


HARI YANG DIPENUHI KABAR KOBAR API

Seluruh penjuru terbakar kata-kata yang kau taburkan di jalanan
Kebecian tumbuh dekat pohon yang setiap hari kau siram
Tidak ada yang ingin bertanya
Selalu ada yang menoleh menyelamatkan jarimu
untuk lari kemudian pergi

Aku ingin hidup bersama aroma asap
Yang mengepul di gelas setelah selesai di hirup
Mengganti tiap tetes kopi yang meleleh di bibirnya.
Jemarimu yang mungil adalah alasan terpampang di mata meja.
Aku ingin menikmati pelukanmu yang hangat.

Menggambar apa pun yang kau suka dari puing-puing yang tersisa.
Semacam lukisan tawa dan luka yang hadir bergantian
mengenang kenangan yang lahir dan getir di tempat yang sama.
Pada didingnya yang pernah ada foto mungilmu
hanya bisa terbaring dan menangis.

Kau selalu ingin lari membuat api-api baru
kemudian kau berhasil mengepungku.
Dengan harapan yang tetap sama,
ingin melihat sejauh mana api bisa hidup di mataku.



MERENCANAKAN PERPISAHAN


MERENCANAKAN PERPISAHAN

Kita adalah pasangan yang membatalkan pergi ke sebuah pesta.
Di sana semua orang terlihat baik
setelah mereka meninggalkan anak-anak dalam dirinya
dan meninggikan kesombongan yang selalu gagal dibunuh.

Langit tahu dan menarik kata tanya
tepat di atas topeng yang kau kenakan.
Tawa jadi lipstik yang menjaga bibirmu
agar tetap merah dan bahagia.

Kau hobi menghindari takdir.
Menyaringkan musik dan tidak ada yang terdengar.
Tas di lenganmu hanya berisi buku-buku kosong
yang gagal meraba meja
dan hanya berhasil membangun sunyi.
Senyuman tidur mengikuti kematian
dan kita sudah sama-sama mengerti kata sandi seperti ini.







MENCIPTAKAN MUSIM HUJAN


MENCIPTAKAN MUSIM HUJAN

Di antara petang yang tinggi dan malam yang sunyi
langit memeluk napasmu.
Terkadang aku sesak karena berbau kemarau
tidak pernah ramah dan selalu menggelisahkan,
tiap jengkal gerah berpintalan degan marah.

Parau suaramu tidak memperlihatkan pintu masuk
karena derita sedang membangun diri.
Luka gagal disebutkan karena kehabisan darah
Ia selalu menimbang-nimbang
agar kesedihan meledak di baris terakhir puisi ini.

Ketika awan bergerak memandangmu, keluarlah dari ingatanku
Mendadaklah lupa bahwa kau sebelumnya mengucap kata sudah.


BATAL MELUNASI RENCANA


BATAL MELUNASI RENCANA

Di suatu hari aku pernah menabung hutang padamu.
Hanya satu hari ia menjadi lebat dan menghutan dengan cepat.
Bunganya rimbun di antara tawa.
Harapan dengan cepat memutari angan-angan
agar besok kita bertemu,
namun akhirnya aku terlambat bertamu.

Ini sudah larut, entah apa yang sudah diceritakan malam tentang aku.
Celakanya kau percaya. Prasangkamu meruntuhkan seluruh rencana.
Aku lelah menebak semua kemungkinan
dan memindahkan cuaca dingin dan hujan.

Cuaca yang kau sajikan baru dapat kumengerti
setelah bayi matahari dicicipi oleh para nelayan di dermaga.
Dari bagan kudengar ibu-ibu terpaksa mengeluhkan
harga ikan yang sudah tinggi.
Mereka tak lagi dapat menyetarakan semua isi kantong
dan perut anak-anak mereka yang keroncong.
Mereka dan aku kembali terpaksa
menuliskan daftar keinginan di peti-peti mati
karena kami sama-sama batal melunasi rencana.

Mungkinkah batal atau bubar sama saja
lebih hobi tangisan atau penyesalan.



MENANGGALKAN JANJI


MENANGGALKAN JANJI

Perencanaan gugur satu persatu mengikuti musim yang sudah tiba.
Waktu yang selama ini terkalung  di tanganmu berlalu
dan lepas dengan menyedihkan dari ingatan.

Aku selalu ingin pulang lebih cepat
untuk menghapus hal yang tidak-tidak
yang telah tumbuh subur di kepalamu.
Janji menjelma cita-cita yang hilang.
Keluhan dan alasan selalu membuatmu sama
dengan apa yang kukhawatirkan.

Yang kusesali, kenapa mata dan telingamu
tidak pernah berfungsi dengan baik seperti otakmu?
Ego sudah tumbuh begitu subur di kepalamu.

MENYERUPAI


MENYERUPAI

Kesedihan membakar habis ingatan-ingatan dalam dirimu
Kau menjadi jalan yang ditinggalkan seluruh pengendara
Alasan-alasan yang keluar masuk dalam lingkaran kesepian.
Kau mengizinkan debu-debu melewatimu
dari sapu-sapu petugas kebersihan.
Kau tidak mau ada yang menoleh.
Tidak membutuhkan wajah-wajah asing.
Luka dan kesedihan dalam dirimu
ingin menangis pada malam secara bersamaan.
Pedih siapa paling menyerupai milikmu
Bayanganmu hanya melemparkan diri
jauh dari kota dan kata yang tak ingin kau kenang.


MENYELESAIKAN HIDUPNYA


MENYELESAIKAN HIDUPNYA

Ini adalah masa di mana ia tidak bisa
menyelesaikan masalah hidupnya.
Tertawa adalah bingkai yang dipenuhi duri.
Luka-lukanya sulit kering ketika kenangan
menjadi awan melahirkan hujan.

Langkahnya dipenuhi kabut
bersemayam begitu dalam
belum dapat bangun.
Mimpi indah selalu jadi alasan, namun sekali lagi ini hanya mimpi
kau menjadi pangeran untuk menjemput seorang putri,
tidak pernah lebih dari itu.

Dadanya disesesaki kalut
Diam dan mengasingkan diri menurutnya pilihan terbaik
hadirkan kesulitan menjadi kesenangan
Kesenjangan satu-satunya air mata yang tersisa.

Selalu melebihi itu.


Kamis, 08 November 2018

APAKAH AKU HARUS BETUL-BETUL MELUPAKANMU

APAKAH AKU HARUS BETUL-BETUL MELUPAKANMU

Langit menjadi pucat karena dirimu tiba-tiba pergi.
Matahari kehilangan auranya, matamu mengambil alih
rona-rona senja yang belum selesai menggambar dirinya.
Hati melangkah jalan setapak menuju sumur mati,
pertanyaan hanya minta dilemparkan di sana.
Sumur itu sudah mati sejak percaya pada janji.

Aku jatuh di angin yang terbang semaunya.
Ramalan cuaca selalu menjadikan aku pengemis
yang tidur di depan pertokoan atau swalayan.
Aku hanya ingin kembali menjadi kata yang tak pucat.
Namun jangankan aku, langit saja pucat melihat kau pergi.

Melupakanmu?
Yang benar saja?

TERLALU LEMAH UNTUK TUMBUH

TERLALU LEMAH UNTUK TUMBUH

Setelah kau mengajak aku berkemah ke salah satu pantai
yang pernah dihadiahi luka,
lalu kita merumahkan kata-kata yang berserakan
sejak ditinggal pergi salah satu penghuninya.
Aku dan kau rela jadi babu sembari tertawa
mengatakan, “kenapa ini terjadi pada kita?”

Malam makin beku diwarnai hujan.
Kau menghidupkan hangat
melalui kesedihan yang ingin kau abukan.
Aku makin kaku melihat api bekerja, prediksiku salah.
Ia bukan membakar kesedihan,
tapi malah kesenangan malam kita yang terbakar.

Besoknya aku menjadi petani
menanam bibit perasaan yang baru
namun cinta tak lagi memiliki keinginan untuk tumbuh dihatimu.

SESEORANG YANG DILILIT HUTAN JANJI

SESEORANG YANG DILILIT HUTAN JANJI

Aku adalah seseorang yang dililit hutan janji
setiap kau bangun membuka pintu.
Di sana kutemukan mimpi
tidak bisa lagi mengecupkan selamat pagi.
Ia tak bisa menemukan jalan pulang lantaran tersesat
di belantara menuju maafmu.

Seketika kau buta tak bisa membaca rambu-rambu kenyataan yang digariskan petualang sebelum aku di tubuh pepohonan.
Kini tangan waktu panjang dan menakutkan sudah terlanjur terlantar menunggu kabar.
Kenapa kau tampak begitu tergesa-gesa tanpa menoleh?
dan cenderung mengikuti ajakan kecewamu?

Sudahlah,
Aku kalah dan bersalah.
Rindu selalu mengarah padamu

KATA-KATA BELUM MAKAN BERHARI-HARI

KATA-KATA BELUM MAKAN BERHARI-HARI

Di dapur ibu, api belum menyala
kehidupan masih mengawang dari pesanmu bulan lalu
Aku belum siap kau menjadi musuh.

Semua dilarang bicara atau hanya sekedar menuliskan
daftar kejadian yang mengakibatkan kelaparan.
Kau selalu membayangkan hujan datang
dan meminta izin untuk tumbuh
di baris terakhir puisi yang kutuliskan tadi malam.
Namun tidak pernah ingin tahu
alasan mengapa mereka dihadirkan di sana.

Keheningan memenuhi ruangan.
Rumah memilih mati daripada melamun sendiri.
Kata-kata masih tidur, walau sudah pukul sembilan pagi.
Mungkin karena kita terlalu lelah bersuara
dan telingamu lupa dibangunkan.

Sudah beberapa bulan belakangan kita hanya saling menatap.
“Kau terlalu sombong” adalah kata-kata yang sama dan
selalu kita suarakan diam-diam
di meja makan, di ruang kerja, di taman belakang,
dan di semua tempat yang pernah ada kita

TELINGAMU MENDENGAR DI TELINGAKU

TELINGAMU MENDENGAR DI TELINGAKU

Angin yang keluar dari baling-baling,
tertawa melihat kita melarikan diri
membawa seluruh pekerjaan bermain di tempat sunyi.
Televisi mati, monitor koma, meja bisu, atau teras tuli.
Kesedihan bergegas pulang setelah bekerja keras seharian.

Di hadapanmu ada telinga kedinginan
memimpikan suaramu keluar dari kerongkongan.
Kau mematung di halaman buku tugas kuliah
mengizinkan huruf-huruf berisi perasaan membaca matamu.
Kau mengenalinya, andai saja itu aku.

Kau mengejutkan malam
seperti luka membangunkan kesedihan.
Tugas dan huruf-huruf jatuh
dan menimpa telinga menumpahkan suara
yang lelah memainkan kata-kata membaca namamu

PAGI INI ORANG-ORANG MENYEBUTNYA TRAGEDI

PAGI INI ORANG-ORANG MENYEBUTNYA TRAGEDI

Matahari belum cukup umur untuk dikatakan pagi
aku belum tidur dan kekurangan waktu
menjelajahi jawaban yang kau tabung.

Sarapan menjadi satu-satunya harapan yang menyusunku kembali utuh
di meja makan nenek yang sudah tidak tegap lagi berdiri.
Aku lahap menikmati pertanyaan yang menjadi bubur.
Dalam mangkok lukisan ayam,
ada kaki-kaki menghangatkan seluruh jantung dan hati
tidak seperti kakimu yang dingin seusai hujan menangis malam tadi.

Aku menemukanmu telah menjadi masa lalu yang pergi.

Rabu, 07 November 2018

MATAHARI YANG MELELEH DI JALAN RAYA


MATAHARI YANG MELELEH DI JALAN RAYA

Aku hampir saja kehilangan pekerjaan
karena matahari melelehkan separuh tintaku di jalan raya
tepat beberapa ratus meter sebelum puisi ini membacakan dirinya.

Tidak ada lagi yang bisa kutulis dengan utuh.
Marka jalan menjadi batas antara berhenti
dan melanjutkan kebohongan.
Di sana ada petugas yang siaga mengamankan kemacetan
peredaran darah agar jantungmu tetap berdetak.
Namun kau tak pernah benar-benar sehat melanjutkan pernapasanmu yang sesak.
Semoga kau lancar membangun langkah untuk pulang.




HUJAN YANG KEMBALI KE LANGIT


HUJAN YANG KEMBALI KE LANGIT

Matamu adalah bencana dari kejauhan
tidak berhenti menatap kondisi lenganku yang kosong.
Aku tidak bisa memeluk apa pun saat jatuh selain hati yang remuk.
Bayanganmu selalu minta dicintai namun tak pernah melebihi matamu

Hujan berjatuhan putus asa dari langit
Ia bekerja lebih awal kali ini.
Hanya para nelayan dan angin darat yang bekerja sama di dermaga yang tahu peristiwa itu.
Kau pernah hendak bertanya,
namun tidak ada siapapun selain bangkai senja.

Nanti, tunggu saja akan ada suatu ketiba-tibaan
hujan turun tanpa pernah kau sadari,
kemudian jatuh dan kembali ke langit.
Dan dirimu tidak tahu.

ADEGAN SEBELUM MUNCUL KATA TAMAT


ADEGAN SEBELUM MUNCUL KATA TAMAT

Kondisi langit belum sembuh seutuhnya,
ia masih kurang sehat karena hujan tumbuh dengan deras
untuk menguras harapanmu menyaksikan film terbaru
yang baru beberapa hari lalu lahir di bioskop.

Kita sering bertatap
Aku perlahan membaca matamu yang ingin pulang lebih cepat.
Senyumanmu lapuk tawamu remuk
mungkin kau baru saja menyaksikan adegan
yang tidak pernah ingin hadir.
Ini sebenarnya tidak lebih dari ajang pembuktian
bahwa dirimu adalah masyarakat kekinian
yang tidak pernah kehilangan selera

Setelah dirimu pulang dan aku lagi-lagi datang
Entah malam keberapa, aku terlalu ingat
namun tidak ingin mengingatnya

Di atas kasur, di bawah ventilasi yang mendinginkan selimutmu,
dan di depan layar kacamu
yang sudah sejak tadi berbincang tanpa suara,
kau membaca kemalangan.

MEMBAGI LANGIT


MEMBAGI LANGIT

Ia lebih terbuka daripada minimarket dua puluh empat jam
yang sering kau kunjungi ketika lapar
mengajakmu begadang di malam hari.
Ia lebih kuat dari jembatan yang menghubungkan
harapan dan kemalangan.
Ia lebih setia dan selalu memilih tersenyum.
Ia tidak ingin dirimu terlihat kalah saat pulang
dengan mimpi yang kosong
atau demi menyembunyikan tangis entah pekerjaan siapa.

Langit yang tegap berdiri di atas kepala
selalu mencintai pintu dan daun-daun jendelamu.
Tanpa alasan dan tuduhan ia menyembunyikan tersangka
sebagaimana hati yang jatuh diam-diam.

Langit depan rumahmu kumuh dan bukan hanya dirimu yang sedih.
Ia juga berharap dapat mencuci matamu
dengan menelan dirinya sendiri.
Perlahan ia mampu menceritakan kesedihanmu
pada langit di depan rumahku.
Aku mendengar seluruhnya dengan jelas.
Mereka sepakat redup.
Warna lampu memilih hitam di kasurmu
di kasurku juga merasakan kehilangan yang berbahaya.

SEPASANG JENDELA KEMBAR


SEPASANG JENDELA KEMBAR

Sore itu aku harus menjadi jendela yang kau sentuh
karena mencoba separuh terbuka di kehidupanmu.
Aku menitipkan beberapa pertanyaan pada angin, kenapa?
Hanya ia yang dapat langsung menikmati
dan menciumi detak jantungmu.

Tersesat dan tersesal membuang diri jauh dari kata-kata.
Mungkin saja ia tidak ingin diketahui lebih lanjut
tentang siapa ayah dan ibunya.
Rahasia meletakkanmu lebih dekat dengan percobaan bunuh diri
sementara tawa adalah perayaan yang mati diam-diam dalam diriku.

Sore itu dirimu menatap kemalangan
yang tidak pernah menemukan jalan pulang.

HARI LAHIR KEMATIAN DIRIMU

HARI LAHIR KEMATIAN DIRIMU Di kota ini semua terbunuh mengikuti kematianmu Luka dan duka tumbuh subur di sepanjang bumi merentangkan...