AKU
SEMAKIN BANYAK MENGINGATMU
Ketika
aku mulai lupa cara tertawa dan kau terus tersedak
oleh
lelucon konyol yang mampir di telingamu.
Sebagian
kepalamu hanya diisi perintah untuk lari.
Entah
karena aku begitu menakutkan
atau kau
begitu menginginkan.
Seperti
biasa, senja sore yang ku tatap dari balik jendela.
Hanya
berisi lambaian langit yang ditumpahi kebahagiaan.
Langit
selalu menuangkan udara yang lembab.
Memompa
kehidupan kota dan kita.
Sementara
di tubuhmu, tetapi terus membelukar menggantung diri dengan harapan utuh
kembali.
Kau
semakin lekat dalam lengan-lenganku.
Mereka
dipaksakan terpasang walau tanpa memeluk apa-apa.
Ini
semua hanya kebisingan di kepala
yang tak
henti menampung penyakit.
Dalam
diriku penuh kebakaran, dan malah kau menjadi api.
Aku
enggan tersenyum setelah semua usai
dengan
cara semestinya menurutmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar